Guru, yang semestinya menjadi pendidik sejati dan pengawal proses pembentukan karakter, kini telah direduksi menjadi sekadar operator sistem administratif.
Dalam praktiknya, guru dituntut untuk mengejar kelulusan seratus persen, menaikkan nilai demi akreditasi, dan melaporkan pencapaian sesuai standar yang telah disiapkan sistem—tak peduli apakah peserta didik benar-benar memahami atau tidak.
Realita yang Ironis
Dalam survei nasional Litbang Kemendikbudristek tahun 2022, sebanyak 74 persen guru merasa tidak bebas dalam memberikan penilaian objektif karena adanya tekanan dari pihak sekolah, orangtua, bahkan dinas pendidikan.
Maka tak heran, banyak guru memilih ‘jalan aman’ yaitu menyesuaikan nilai agar semua murid terlihat berhasil, agar tidak dipermasalahkan.
Sebuah ilusi pendidikan pun tercipta. Citra sekolah bagus. Nilai rapor tinggi. Tetapi sesungguhnya, substansi pendidikan tengah dikorbankan di altar birokrasi dan pencitraan.
Guru tak lagi menilai berdasarkan kejujuran, tetapi berdasarkan ekspektasi sistem. Guru yang ingin bersikap jujur kerap dianggap sebagai “pembuat masalah”. Maka lahirlah generasi yang naik kelas tanpa bekal, lulus tanpa kesiapan, dan merasa hebat tanpa pernah ditempa kegagalan.
Tekanan Psikologis dan Sosial Terhadap Guru
Dalam sistem yang serba pencitraan ini, guru menjadi pihak yang paling rentan tertekan, baik secara psikologis maupun sosial.
• Jika guru mempertahankan siswa karena belum layak naik kelas, maka orangtua akan protes.
• Jika guru terlalu jujur menilai, kepala sekolah bisa khawatir reputasi sekolah jatuh.
• Jika guru tidak tunduk pada sistem, maka kariernya bisa tersendat—karena penilaian kinerja mereka justru ditentukan oleh kepatuhan administratif, bukan oleh kualitas pendidikan yang nyata.
Laporan Ikatan Guru Indonesia (IGI) tahun 2023 menyatakan bahwa lebih dari 62 persen guru mengalami tekanan emosional akibat beban non-pedagogis, seperti:
• Laporan berbasis platform digital,
• Administrasi nilai yang kaku,
• Penilaian kinerja berbasis kuantitas, bukan kualitas.
Di tengah tekanan itu, guru kehilangan waktu terbaiknya untuk mengajar, mendidik, dan membimbing murid secara personal. Padahal, pendidikan yang berhasil selalu lahir dari relasi yang jujur antara guru dan murid, bukan dari layar laptop dan grafik pencapaian semu.
Erosi Integritas Profesi
Jika kejujuran seorang guru justru dianggap sebagai ancaman bagi sistem, maka krisis sesungguhnya bukan lagi pada murid—tetapi pada kultur pendidikan itu sendiri.
🎓 Integritas profesi guru sedang terkikis pelan tapi pasti. Ketika guru tidak lagi diberi ruang untuk bersikap tegas, maka nilai-nilai luhur dalam pendidikan pun ikut pudar. Anak-anak tidak belajar menghadapi kegagalan. Mereka tidak dilatih untuk bertanggung jawab. Mereka dibiasakan hidup dalam kenyamanan semu.
Lebih parah lagi, guru pun mulai terbiasa berdamai dengan kepalsuan:
• Meluluskan murid yang tidak layak lulus.
• Memberi nilai bagus meski capaian akademik lemah.
• Mengisi rapor sesuai ‘template sistem’ bukan hasil belajar sejati.
Jika ini terus dibiarkan, maka apa gunanya gelar pendidik? Apa makna guru jika tidak bisa jujur pada ilmunya?
📌 Komnas HAM bahkan sempat menyoroti tekanan terhadap guru sebagai bentuk pelanggaran hak atas profesi yang bermartabat (Laporan Komnas HAM 2021), menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar teknis pendidikan—tetapi menyentuh akar persoalan martabat kemanusiaan.
Guru bukan robot sistem
Guru adalah manusia yang mendidik manusia lain—dengan hati, akal, dan nilai.
Namun jika guru terus ditekan untuk mengorbankan nilai-nilai itu demi memenuhi target angka, maka yang sedang kita lahirkan adalah sistem yang mencetak ‘peserta ujian’ bukan manusia merdeka.
🔔 Inilah saatnya membela guru yang jujur. Bukan dengan memanjakan atau membebaskan dari evaluasi, tapi dengan mengembalikan martabat guru sebagai pendidik, bukan sebagai administrator kelulusan.
Tanpa guru yang berani jujur, pendidikan akan menjadi panggung sandiwara kolektif yang tampak gemilang tapi rapuh di dalam.
Oleh Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
Sumber: mengestiwrites.wordpress.com
Kembali ke bagian 3:
Serial Akar Masalah Pendidikan Kita (Bagian 3) Generasi Rapuh, Tak Siap Gagal, Tak Siap Bangkit
Foto: pixabay