Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memikul amanah dari Allah. Menjadi pengemban amanah dari Sang Khaliq.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al Ahzab 72).
Beban Amanah itu Begitu Agung Dan Berat
Manusia mendapat amanah untuk menunaikan perintah Allah, menjauhi larangan Allah, menyeru manusia mengesakan Allah dan tugas untuk memakmurkan bumi.
“…Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Hud 61).
Manusia itu lemah sedangkan amanah begitu berat sehingga langit, bumi dan gunung pun enggan menerima amanah. “…Dan manusia diciptakan (dalam keadaan) lemah.” (QS. An Nisa 28).
Hakikat Manusia Itu Lemah
Tidak akan mampu manusia menunaikan amanah berat ini sendirian tanpa kekuatan dari yang Mahakuat. Tugas sebagai pribadi sudah begitu berat, apalagi amanah sebagai guru/pendidik/ayah-ibu.
Mendidik anak manusia merupakan beban paling berat, paling berisiko sedangkan durasinya begitu singkat. Tugas pendidik (ayah-ibu & guru) dari sejak kandungan hingga akil baligh (usia puber). Setelah akil baligh, pada hakikatnya peran pendidik hanya perpanjangan waktu saja.
Ini Risikonya
Mengapa sangat berisiko? Karena risikonya mengantarkan pendidik dan anak didik dengan tujuan akhir di surga vs neraka, yang tiada ujung waktunya. Selamanya.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At Tahrim 6).
Beban menjadi pendidik begitu berat, sehingga kita membutuhkan kekuatan dari Allah yang Mahakuat. Kekuatan dari Tuhan yang Mahaesa, tiada tuhan selain Allah.
Tentu saja, Allah akan melimpahkan kekuatan kepada para pendidik. Namun itu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Seperti halnya sebuah ponsel membutuhkan daya dengan spesifikasi alat pengisi daya tertentu dan sumber daya dengan daya tertentu.
Hanya Kepada Allah, Tuhan Yang Mahaesa Pemilik Kekuatan Itu
Menurut KH. Agung Cahyadi, MA, Ketua Dewan Pengasuh Ponpes Darul Fikri Sidoarjo, guru dan ayah ibu itu pendidik. Sedangkan pendidik itu tugasnya berat.
Inilah Syarat Memperoleh Pertolongan Tuhan
Agar mendapat kekuatan dari Allah yang Mahaperkasa, tentu ada syarat yang harus dipenuhi
Syarat Pertama
Iman pendidik harus 100 persen benar. Tak boleh ada keraguan sedikit pun dan tak boleh tercampur dengan syirik sekecil apapun.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat 15).
Syirik adalah perusak iman. Syirik itu meyakini ada kekuatan lain -selain Allah- yang dainggap mampu memberi keselamatan, pembawa bala/musibah, kemanfatan dan/atau membawa mudharat.
Bahkan meyakini pada batu, cincin, kalung, gelang, kertas dengam tulisan tertentu sekalipun kepada untaian tasbeeh dianggap membawa keselamatan/penolak bala.
Ini adalah syirik, meskipun dianggap remeh tapi ini merusak keimanan dan menjauhkan dari pertolongan Allah Swt. Perbuatan syirik sekecil apapun dianggap suatu keraguan dalam keimanan kepada Allah Swt.
Bahwa iman itu hanya yakin kepada kekuatan Allah semata dan kita melakukan usaha gigih yang logis serta tidak termasuk syirik. Usaha yang logis secara nalar itu bagian dari upaya manusia, ditambah dengan doa yang dibenarkan secara ketentuan agama dan syariat.
Syarat kedua
Para pendidik wajib meluruskan ucapannya agar mendapat pertolongan Allah yang Mahakuat. Kejujuran adalah syarat mutlak.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab 70).
Syarat ketiga
Pendidik itu bukan saja memberi ilmu namun juga menjadi peraga karakter mulia. Pendidik dan orangtua itu teladan bagi anak-anak didiknya. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Begitulah peribahasa yang sangat masyhur.
Karakter pendidik dan orangtua itu menjadi acuan anak-anak kita. Karakter moral harus jadi teladan seperti jujur, amanah, dan tekun beribadah. Juga karakter kinerja yang berguna dalam keseharian, misalnya disiplin, tidak gampang putus asa, kreatif, giat, gemar menolong, dll.
Karakter tidak hanya diajarkan, namun harus dicontohkan, dibiasakan dan dipahamkan. Itulah karakter yang bahasa lainnya adalah adab.
Selamat Hari Guru Nasional
25 November 2025
Semoga para guru memperoleh kekuatan dari kekuatan hebat dari Allah, Tuhan yang Mahaesa.
Oleh Oki Aryono, S.Pd, penulis bidang pendidikan dan sosial, tinggal di Sidoarjo.