Dalam sistem pendidikan kita hari ini, kegagalan dianggap musuh, bukan dianggap sebagai guru. Padahal sejatinya, kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari proses belajar yang otentik.
Pendidikan yang sehat tidak memanjakan anak dengan kepastian sukses, tetapi melatih mereka untuk tabah ketika gagal, jujur ketika salah, dan bangkit saat jatuh.
🔍 Kita telah melupakan realitas sederhana ini: bahwa kemampuan menghadapi kenyataan pahit—seperti kegagalan—jauh lebih penting dalam hidup dibanding angka di rapor.
Mengutip Winston Churchill,
“Kesuksesan adalah kemampuan untuk melangkah dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan antusiasme.”
📌 Tapi, bagaimana bisa anak-anak memiliki kemampuan itu jika:
• Mereka tidak pernah mengalami kegagalan dalam sistem formal?
• Mereka “diproteksi” dari ketidaklulusan?
• Mereka diberi nilai tinggi meski tak memahami materi?
📊 Sebuah studi dari Pusat Studi Psikologi Pendidikan UI (2022) menunjukkan bahwa 65% siswa SMA merasa cemas berlebihan ketika menghadapi ujian nasional, namun 82% dari mereka tidak benar-benar siap secara substansi.
Mengapa? Karena selama ini mereka hidup dalam sistem yang menghindari kegagalan, bukan mengelolanya.
đź’ˇ Maka perlu kita bangun kembali paradigma pendidikan yang berani mengajarkan gagal.
• Bahwa tidak naik kelas bukanlah akhir, tetapi awal pemahaman diri.
• Bahwa nilai rapor bukan ukuran tunggal kemampuan hidup.
• Bahwa belajar bukan tentang mengejar ranking, tetapi memperkuat karakter.
Inilah pendidikan sejati: menanam keberanian, bukan sekadar menanam hafalan.
Model Evaluasi yang Lebih Manusiawi
Jika kita serius ingin mendidik anak untuk menjadi manusia utuh—bukan mesin pencetak angka—maka cara kita menilai mereka harus berubah.
📌 Evaluasi berbasis angka absolut—yang seringkali tidak mencerminkan proses belajar—harus digantikan dengan evaluasi berbasis proses dan refleksi. Beberapa pendekatan yang dapat diterapkan:
a. Portofolio Pembelajaran
Alih-alih hanya mengandalkan ujian akhir semester, murid diminta untuk mengumpulkan karya, catatan perkembangan, dan bukti aktivitas nyata. Ini memberi ruang bagi anak untuk menunjukkan proses belajar yang utuh.
b. Refleksi Pribadi
Murid dilatih untuk menulis jurnal belajar, apa yang mereka pahami, kesulitan yang dihadapi, dan bagaimana mereka mencoba mengatasinya. Ini memperkuat kesadaran belajar, bukan hanya hasil.
c. Proyek Sosial dan Kolaboratif
Anak-anak diberi tugas untuk mengerjakan proyek nyata yang menyentuh kehidupan sekitar. Dari sini, mereka tidak hanya belajar kognitif, tetapi juga empati, kerja sama, dan tanggung jawab sosial.
d. Umpan Balik Sejawat dan Guru
Proses belajar bukan hanya dinilai oleh guru, tetapi juga oleh teman sekelas dan murid itu sendiri. Dengan model ini, terbentuk ekosistem belajar yang partisipatif dan saling menghargai proses.
📊 Laporan Education for Sustainable Development UNESCO (2023) menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini telah sukses diterapkan di berbagai negara dengan sistem pendidikan progresif, seperti Finlandia, Selandia Baru, dan Jepang. Mereka menilai berdasarkan pertumbuhan, bukan hanya hasil akhir.
Refleksi, Mendidik Bukan Menang Angka, Tapi Menang Karakter
Pendidikan sejati tidak bisa dibangun di atas kepalsuan. Ia tumbuh dalam tanah kejujuran, disiram oleh pengalaman, dan dipupuk dengan nilai.
👉 Jika sistem terus mengharamkan kegagalan, maka kita sedang menciptakan generasi yang:
• Pandai menyesuaikan diri, tapi tidak tahan uji.
• Terbiasa menang, tapi tak siap kalah.
• Hebat di atas kertas, tapi rapuh dalam kehidupan.
đź”” Saatnya kita ubah logika sistem:
Bukan anak yang harus sesuai sistem, tapi sistem yang harus sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan anak sebagai manusia utuh.
Jika kita ingin pendidikan yang melahirkan insan berkarakter, bukan sekadar lulusan bersertifikat, maka mari kita:
• Kembalikan makna kegagalan sebagai bagian sah dari pendidikan.
• Terapkan evaluasi yang jujur dan manusiawi.
• Berani berkata bahwa pendidikan bukan tentang menyenangkan semua pihak, tetapi tentang menumbuhkan manusia yang bertanggung jawab.
📌 Pendidikan sejati bukan tentang “tidak ada yang gagal”.
Pendidikan sejati adalah: semua anak diberi ruang untuk gagal… dan dibimbing untuk bangkit kembali.
Oleh Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
Sumber:Â mengestiwrites.wordpress.com
kembali ke bagian 4:
Serial Akar Pendidikan Kita (Bag 4), Guru Yang Tertekan, Bukan Mendidik
Foto: pixabay