Suasana di sekolah berasrama saat itu sedang tenang. Seluruh siswa sudah kembali ke kelas masing-masing. Di kelas, santri-satriwati dengan tekun mengikuti penjelasan dari para ustadz-ustadzah.
Adalah Tika (nama samaran), di kelas tidak terlalu nyaman mengikuti pembelajaran. Santriwati kelas X itu asal-asalan saat masuk mata pelajaran di kelas.
Kisah Tika, Lebih Sering Menyendiri Di Asrama
Uniknya, Tika lebih berasyik-masyuk mengulang hafalan Al-Quran yang sudah lima juz. Gadis asal kota reog itu lebih suka menghabiskan waktunya di asrama untuk menambah hafalannya. Anak kedua dari dua bersaudara itu juga sering berlama-lama di masjid sekolah berasrama itu.
Tika begitu tekun dalam mengulang-ulang lembar-lembar Kitabullah. Di sisi lain, ia sudah tidak antusias dengan mapel di kelas. Hal ini dilaporkan wali kelas ke kepala sekolah (KS). Ustadz Adi, Kepala SMA Al Iman Islamic Boarding School (bukan nama sebenarnya), berusaha berbicara dengan Tika lebih dekat.
Ustadz Adi mengundang Tika ke rumah KS yang masih dalam kompleks sekolah. Bu Adi memasak untuk santap malam menyambut kedatangan Tika.
Momen Makan Bersama Jadi Ajang Curhat
KS pun mengajak santap bersama Tika dengan ditemani Bu Adi. Sesaat setelah santap malam, KS mengobrol santai. Termasuk menanyakan bagaimana usaha kue dan roti yang dikelola mamanya.
Mata Tika pun berkaca-kaca. Ia teringat mamanya yang mengurus sendiri toko rotinya setelah berpisah dengan papanya. Dia bercerita bahwa mamanya bertekad akan memajukan bisnis bakery-nya meski tanpa ada sosok suami. Tika pun punya tekad yang sama. Kakaknya juga perempuan yang masih kuliah di kota lain.
Karena itulah, Tika hanya ingin fokus hafalan Al-Quran saja. Dia hanya ingin menuntaskan hafalan Al-Qur’an. Dan itu menjadi bukti bahwa ia mampu menjadi hafidzah meski tanpa ada perhatian dari sang ayah. Semua itu ia ceritakan kepada Ustadz Adi dan Bu Adi.
Kisah Aji, Kabur Dari Asrama Sekolah
Kisah lain tentang Aji. Santri kelas X SMA An Nahl Islamic Boarding School (nama samaran) itu kabur dari asrama. Walaupun ajaran baru masih berjalan tiga bulan, Aji sudah tidak betah di sekolah berasrama itu. Dia keluar tanpa pamit.
Ustadz Hidayat, Kepala Sekolah mengutus Ustadz Hadi, waka kesiswaan untuk mencari Aji di rumahnya di Sidoarjo.
Pak Hidayat berpesan ke Ustadz Hadi, “Kalau Aji ada di rumahnya, berarti ada masalah di sekolah kok sampai Aji tidak betah. Di situlah kita harus mengevaluasi layanan sekolah kita ini.”
“Tapi kalau Aji pergi dan berada di luar rumah, kemungkinan besar ada masalah di rumahnya.”
Kemana Si Aji? Apakah di Rumah ataukah di Luar?
Ternyata Aji tidak di rumah. Setelah dicari dan dihubungi ponselnya, dia justru nongkrong di minimarket sekitar 5 km dari rumahnya, ia bersama kawan-kawannya di sana. Bahkan dia ikut jadi petugas parkir di toko swalayan itu.
Padahal keluarganya tergolong ekonomi sangat berkecukupan. Namun, dia lebih suka nongkrong bareng para bestie-nya itu sebagai juru parkir.
Hasil penelusuran ini menunjukkan bahwa ternyata Aji kecewa. Bukan dengan sekolah, tapi dia kecewa dengan ayah ibunya.
Belakangan ini papa mamanya sering cekcok dan kurang memperhatikan Aji. Aksi kabur ini jadi pelampiasan agar papa mamanya lebih memperhatikannya.
Ciri-ciri Guru Ideal
Dari dua kisah nyata ini, kita bisa menyimpulkan bahwa peran guru/KS tidak hanya mengelola kegiatan belajar di sekolah saja. Tidak melulu soal pelajaran dan kurikulum saja. Namun guru ideal itu punya tiga peran utama:
– Setiap guru adalah guru BK
Maknanya, tiap guru mampu menjadi tempat curhat bagi tiap muridnya dan mampu merasakan perubahan psikologis pada siswa-siswinya. Guru yang mampu menangkap sinyal-sinyal perubahan psikologis dan fisiologis para muridnya. Tiap hari pagi hingga siang, guru bersama-sama dengan anak-anak didiknya, bahkan hingga sore jika fullday school dan hingga malam jika berasrama/pesantren.
Guru ideal harus mampu menelusuri akar masalahnya yang dialami para muridnya dan mengupayakan solusi dari masalah itu. Tentu saja proses penyelesaiannya harus berkoordinasi dengan pimpinan sekolah dan walimurid.
– Setiap guru adalah guru agama
Meski bukan guru Mapel Agama, namun guru ideal itu mampu memberi teladan dalam pengamalan agamanya yang dianutnya masing-masing.
Guru baik itu guru yang layak menjadi panutan dalam menjalankan ajaran agama, tak hanya di hadapan siswa-siswi, namun juga di hadapan walimurid dan di lingkungan sekitarnya.
– Setiap guru adalah guru mapel yang ulung
Kecuali guru TK dan SD, setiap guru adalah guru yang menekuni mapel tertentu sesuai latar belakang pendidikan tinggi yang ditempuhnya, setidaknya jenjang S1.
Guru ideal adalah guru yang memahami secara utuh konsep mapel dan mampu mentransfer ilmu itu ke siswa-siswinya. Guru baik itu memahami apa yang diajarkan dan tahu cara mengajarkannya.
Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata
Foto: pixabay