Akhir September 2025 lalu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi sentilan kepada perusahaan minyak dan gas negara.
Menurut Purbaya, Pertamina pernah berjanji pada 2017 untuk membangun tujuh kilang baru dalam lima tahun. Namun sampai 2025 belum juga ada satu kilang baru yang siap berproduksi.
Akibatnya, kita selalu impor BBM jadi ke Singapura yang tidak punya kilang minyak. Pertamina hanya ekspor minyak mentah saja. Dan biaya impor minyak matang membebani anggaran negara. Inilah yang dikeluhkan Menkeu.
Menkeu: Pertamina Malas Bikin Kilang Baru Dalam Lima Tahun
Purbaya menyebut, Pertamina malas untuk membangun kilang baru. “Tidak ada kilang baru dalam tujuh tahun ini. Pertamina-nya males-malesan,” jelasnya dalam rapat dengan DPR RI (30-9-2025).
Sentilan Menkeu ini mengingatkan kembali kepada filosofi pendiri NKRI. Dulu Bung Karno mencetuskan semangat membangun negeri: “Biarkan kekayaan alam kita tetap tersimpan di perut bumi, hingga unsur-unsur Indonesia mampu mengolahnya sendiri.”
Siapa Yang Layak & Mampu Mengolah Kekayaan Alam Negeri Ini?
Unsur seperti apa yang mampu mengolah kekayaan alam Indonesia yang luas ini? Mari sedikit ulas tentang kebutuhan unsur SDM Indonesia melalui profil pelajarnya. Amanat pendiri negeri agar alam kekayaan ini harus diolah anak negeri.
Bagaimana pun dari para pelajar dan sarjana produk pendidikan kita sendiri yang harus mampu mengolah NKRI yang luasnya setara dengan 11 negara Eropa Barat.
Seperti apa profil lulusan pendidikan kita yang diharapkan mampu mengolah kekayaan alam yang luas ini. Kita urai secara garis besarnya di tulisan ini.
1. Mereka nantinya berkelayakan masuk ke perguruan tinggi ternama, di dalam negeri lebih-lebih di luar negeri.
Sejak SD, para siswa sudah disiapkan agar layak masuk perguruan tinggi ternama. Sangat baik jika bisa diterima di perguruan tinggi luar negeri. Contoh paling ideal adalah meneladani Pak BJ. Habibie yang bisa meraih prestasi optimal Kampus Achen, Jerman.
Sejak SD kemudian SMP, lanjut ke SMA, harus disiapkan untuk nantinya mereka bisa menempuh pendidikan sesuai bakat minatnya di kampus-kampus terbaik di dalam negeri maupun luar negeri.
Semua itu perlu disiapka jauh sebelumnya agar tidak terjadi zigzag pendidikan yang bisa merugikan siswa itu sendiri. Misalnya masuk IPA padahal kemampuannya bukan di IPA. Jangan sampai anak-anak kita kehilangan arah dalam mengembangkan potensi dirinya.
Ini perlu disiapkan oleh segenap pemangku kepentingan pendidikan agar anak-anak kita benar-benar optimal bakat dan minatnya.
2. Berkarakter
Karena kita tidak hanya membutuhkan kader bangsa yang terampil saja, namun punya karakter. Atau istilah lain anak bangsa punya adab yang baik.
Karakter bisa dibagi menjadi dua bagian besar.
– Karakter moral meliputi akhlak-akhlak mulia seperti jujur, beriman, bertaqwa, sopan, rendah hati, dermawan, bersih, dermawan, suka menolong, dll.
– Karakter kinerja meliputi karakter disiplin, pekerja keras, tidak malas, kreatif, mandiri, dll.
Dengan karakter-karakter positif seperti di atas, kita berharap besar bahwa mereka mampu mengolah kekayaan alam Indonesia dan menjadikan sumber kesejahteraan
3. Pembelajar
Mengapa harus pembelajar sepanjang hayat? Karena zaman terus bergerak. Perkembangan iptek makin cepat bergeser. Sehingga, tanpa sikap pembelajar, kita akan ketinggalan dan tidak akan mampu berkiprah di tengah masyarakat.
Kenapa harus jadi pembelajar seumur hidup? Karena, keadaan tak selalu suportif. Ada kalanya keadaan tidak mendukung. Beda tempat pun bisa beda keadaan sehingga menuntut kita untuk terus belajar.
Misalnya, ada seorang sarjana informatika sedang berada di daerah tak ada sinyal internet atau bahkan tanpa listrik. Maka, dia perlu belajar bagaimana perannya tetap optimal di daerah seperti itu.
Beda masa pun bisa beda keadaan. Dulu kita selalu pakai telepon kabel, kini semuanya serba nirkabel. Maka, sikap pembelajar menjadi salah kebutuhan penting bagi generasi Indonesia jika ingin mampu berkiprah di negerinya sendiri apalagi di kancah mancanegara.
Dengan profil generasi seperti di atas, maka seperti itu pulalah kita ingin membentuk profil para guru di sekolah-sekolah negeri ini.
Guru yang:
1. Mumpuni ajarkan MAPEL sesuai fokusnya
2. Berkarakter (karakter moral & karakter kinerja)
3. Pembelajar sepanjang hayat
4. Dapat mengajar MAPEL dalam bahasa Inggris, agar kompetitif di kancah mancanegara.
5. Mampu membuat alat evaluasi/penilaian yang efektif dan berkualitas, juga mampu mengkategorikan soal-soal sesuai MAPEL masing-masing.
6. Mengimplementasikan Cybergogy (penggunaan media digital dalam PBM)
7. Mengimplementasikan Peeragogy (merangsang siswanya untuk mengajari sesama siswa dalam MAPEL yang diampu sang guru).
Penulis: Oki Aryono, tim YGMI
Tulisan ini terinspirasi dari diskusi dengan Dr (HC).Ir Abdul Kadir Baraja (Pembina Yayasan Guru Mulia Indonesia dan Dr. Edy Kuntjoro, M.Pd (Kepala SMA Al Hikmah IIBS Batu, 2018-2024, kini Sekretaris Pengurus Yayasan Guru Mulia Indonesia).
Foto: pixabay